Tanjung Morawa | formappel.com— Siapa sangka, dari dapur sempit di Gang Rezeki, Desa Limau Manis, lahir camilan ringan yang kini jadi perbincangan di lorong-lorong kantor Pemkab Deli Serdang.
Namanya: Keripik Tamora, Camilan yang renyah, pedas, manis, asin, gurih—semuanya meledak di mulut.
Camilan ini bukan sekadar keripik singkong biasa. Ini adalah keripik dengan attitude!
Adalah Kiki Indah Astuti (49), ibu rumah tangga yang tak mau hidupnya hanya bergantung pada gaji suami yang berstatus ASN.
Dengan tangan cekatan dan insting dagang yang tajam, ia sulap singkong jadi cemilan seksi yang laris manis—bahkan mampu tembus 200 bungkus per hari hanya dari pesanan!
“Di kantor Pemkab Deli Serdang, Keripik Tamora sudah jadi langganan.
Banyak pegawai pesan lewat suami saya, Jadi saat pulang kerja, bawa pesanan, besok paginya tinggal dibagikan,” ujar Bu Kiki, tersenyum misterius, menolak menyebut identitas sang suami.
Keripik dengan Gairah Rasa
Satu bungkus berisi 150 gram, dikemas dalam kotak plastik eksklusif, dan dijual hanya seharga Rp10.000.
Tapi jangan remehkan! Begitu gigi Anda menggigit keripik ini, kombinasi rasa asin, manis, gurih, dan pedas akan meledak seperti pesta kecil di mulut.
Pegawai Pemkab menyebutnya, “Rasa yang bikin susah move on!”
“Rasanya beda. Gurih, tidak terlalu pedas, pas buat lidah orang Sumut, Bisa temani kerja, bisa juga temani ngobrol santai,” ujar Eka, pegawai Dinas Perhubungan, sembari mencomot satu bungkus untuk dibawa pulang.
Modal Nekat, Tekad Kuat
Ibu Kiki mengaku belum sempat memperluas pasarnya ke warung, rumah makan, atau dinas-dinas lain.
Tapi rencananya sudah ada, “Kita masih cari orang yang pas untuk bantu keliling, Anak-anak saya masih sekolah, jadi saya belum bisa keliling sendiri,” ujarnya sambil mengepak keripik yang baru saja keluar dari penggorengan.
Di balik kelembutan suara dan senyumnya yang hangat, ada nyala api perjuangan seorang ibu rumah tangga yang ingin menaklukkan pasar dengan rasa.
Kritik untuk yang Lain, Pujian untuk Tamora
Menurut Aditya Munarman, keripik Tamora jadi penyelamat di saat cuaca panas dan kerjaan menumpuk.
“Keripik lain kadang keras dan pedasnya keterlaluan. Tamora beda. Renyah, ringan, gurih. Gigitannya tuh kayak… healing!”
Camilan Lokal, Gairah Nasional
Kisah Bu Kiki dan keripik Tamora membuktikan satu hal: bisnis rumahan bisa menembus tembok-tembok birokrasi, asal punya rasa dan semangat luar biasa.
Dari Gang Rezeki hingga Kantor Bupati, dari penggorengan rumahan hingga meja rapat dinas—Keripik Tamora bukan sekadar camilan. Ia adalah gerakan kecil menuju ekonomi mandiri.
Tertarik coba? Siapkan lidahmu, Karena Tamora tidak datang untuk sekadar mengisi perut—ia datang untuk bikin ketagihan!(*)






















