Batasi Wartawan Saat Meliput Aksi, BPN Tanjungbalai Dituding Bungkam Pers
TANJUNGBALAI // FORMAPPEL.com —
Aroma pembungkaman pers kembali tercium di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tanjungbalai. Di saat publik berhak tahu, BPN justru memilih menutup pintu informasi. Dalam aksi demonstrasi yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Komunikasi Masyarakat Nasional Demokrasi (DPP KOMANDO), pihak BPN secara sepihak membatasi jumlah wartawan yang boleh meliput: hanya dua orang.
Pembatasan itu disampaikan langsung oleh pegawai dan petugas keamanan BPN, atas arahan pimpinan, Kamis (29/1/2026), ketika sejumlah awak media hendak menjalankan tugas jurnalistiknya.
“Sudah ditanyakan ke pimpinan, yang boleh masuk meliput hanya dua orang,” ujar petugas dengan nada datar seolah peliputan berita adalah fasilitas eksklusif, bukan hak konstitusional.
Kebijakan ini langsung menuai kecaman keras dari Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Tanjungbalai, Chairul Rasyid Pangaribuan. Ia menegaskan, tindakan BPN bukan sekadar tidak etis, tapi melanggar prinsip dasar demokrasi dan kebebasan pers.
“Kami bekerja dilindungi UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ini bukan undang-undang abal-abal. Membatasi wartawan jelas bentuk penghambatan kerja jurnalistik dan upaya mengerdilkan informasi publik,” tegas Chairul.
Sejumlah wartawan yang ditolak masuk menilai langkah BPN berpotensi menciptakan informasi timpang, mengaburkan fakta, dan mempersempit ruang kontrol publik terhadap kinerja lembaga negara. Transparansi yang seharusnya menjadi wajah pelayanan publik justru berubah menjadi tirai tertutup.
Ironisnya, kejadian ini bukan yang pertama. Praktik serupa sebelumnya juga muncul di beberapa daerah lain di Sumatera Utara seperti Tapanuli Tengah dan Langkat, dan selalu berujung kecaman dari organisasi pers.
Pertanyaannya kini menggelinding tajam:
Apa yang sedang ditakuti BPN Tanjungbalai hingga harus membatasi wartawan?
Jika tak ada yang disembunyikan, mengapa pers justru dibatasi?
Di negeri yang mengaku demokratis, membungkam pers adalah alarm bahaya. Dan hari ini, alarm itu berbunyi keras dari Tanjungbalai. (Hendra Gunawan)






















