Daerah

Impian Berubah Jadi Derita: Kisah Pilu Pasutri Medan, Istri Koma di ICU Thailand, Suami Berharap Uluran Tangan

12
×

Impian Berubah Jadi Derita: Kisah Pilu Pasutri Medan, Istri Koma di ICU Thailand, Suami Berharap Uluran Tangan

Sebarkan artikel ini

Impian Berubah Jadi Derita: Kisah Pilu Pasutri Medan, Istri Koma di ICU Thailand, Suami Berharap Uluran Tangan

‎MEDAN // FORMAPPEL.com – Niat hati ingin mengubah nasib, namun takdir berkata lain. Kisah pilu menimpa pasangan suami istri (pasutri) asal Kota Medan kini harus berjuang di negeri orang dalam kondisi penuh ketidakpastian.

fd9b2591 a4de 4478 a85e 8d627dbe749e

‎Jhon Adisyahputra (27) dan istrinya, Rina Sisilla (39), warga Jalan Anggrek I No.317, Kelurahan Helvetia Tengah, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, awalnya berangkat meninggalkan Indonesia dengan harapan mendapat pekerjaan yang lebih layak di Malaysia. Keputusan itu diambil setelah mereka menerima informasi dari seorang teman mengenai peluang kerja di sebuah rumah makan.

Dengan berat hati, keduanya berpamitan kepada orang tua, Ratnawati Saragih (52), dan menitipkan buah hati mereka yang masih berusia 3 tahun. Tangis perpisahan kala itu menjadi saksi harapan besar yang mereka gantungkan di negeri orang.

‎Namun harapan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan. Selama berminggu-minggu, sang ibu tak kunjung mendapat kabar. Hingga akhirnya, sebulan kemudian, kabar datang, namun bukan kabar baik. Anak dan menantunya ternyata tidak bekerja di Malaysia, melainkan berada di wilayah Myanmar, sesuatu yang bahkan tidak mereka ketahui sebelumnya.

‎“Anak saya sendiri tidak tahu kenapa bisa sampai ke sana,” ungkap Ratnawati kepada media pada Sabtu 5/9/2026.

Dalam kondisi penuh keterbatasan, pasangan ini sempat mengirimkan uang sebesar Rp4 juta kepada keluarga. Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Kabar mengejutkan kembali datang, Rina dikabarkan sakit serius, diduga setelah terjatuh di kamar mandi akibat tekanan darah tinggi.

‎Kondisi tersebut membuat Ratnawati terpukul. Demi menyelamatkan anak dan menantunya, ia bahkan rela menjual rumah peninggalan almarhum suaminya.

Dari penjualan itu, sekitar Rp200 juta telah habis digunakan untuk biaya pengobatan. Namun kini, seluruh biaya tersebut telah terkuras, sementara kondisi Rina masih kritis di ruang ICU. Keluarga pun hanya bisa pasrah, bertahan dalam doa di tengah keterbatasan yang semakin menyesakkan.

Dari penuturan Jhon, mereka berangkat pada 24 Mei 2026 menuju Thailand sebelum akhirnya berada di kawasan perbatasan Thailand–Myanmar. Sekitar tiga bulan kemudian, musibah itu terjadi.

‎“Istri saya jatuh di kamar mandi dan kondisinya darurat,” ujar Jhon.

‎Upaya penyelamatan pun dilakukan. Rina sempat dibawa ke sebuah klinik terdekat, namun tidak mendapat penanganan karena keterbatasan fasilitas. Ia kemudian dirujuk ke beberapa rumah sakit di Myanmar, tetapi pihak rumah sakit disebut tidak berani mengambil tindakan medis.

Harapan baru muncul saat mereka diarahkan ke Thailand. Rina sempat dibawa ke MSI Hospital, namun karena keterbatasan dokter spesialis, akhirnya dirujuk ke Mae Sot General Hospital.

Di rumah sakit tersebut, dokter menyatakan kondisi Rina sangat serius dan membutuhkan tindakan operasi pada otak. Hingga kini, Rina telah menjalani dua kali operasi dan masih dirawat di ruang ICU dalam kondisi kritis dan belum sadarkan diri.

‎Namun perjuangan itu kini terhenti di satu titik paling berat: biaya.

‎“Setelah operasi kedua, kami sudah tidak memiliki biaya lagi,” ujar Jhon lirih.

Tidak hanya itu, untuk memulangkan Rina ke Indonesia dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, diperkirakan mencapai sekitar 15.000 dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi beban yang mustahil dijangkau oleh keluarga dalam kondisi saat ini.

‎Dalam kondisi putus asa, Jhon memohon perhatian dan bantuan dari Presiden Prabowo Subianto, pihak KBRI, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, serta Wali Kota Medan Rico Waas agar istrinya dapat melanjutkan pengobatan dan dipulangkan ke Indonesia.

Kini, keluarga hanya bisa berharap pada keajaiban. Di Medan, seorang ibu terus berdoa, menanti kabar baik dari anak dan menantunya, sambil menjaga cucu kecil yang belum mengerti bahwa kedua orang tuanya tengah berjuang antara hidup dan harapan di negeri orang.

Air mata, doa, dan harapan kini menjadi satu-satunya penguat, menanti uluran tangan yang mungkin bisa mengubah akhir dari kisah pilu ini. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *