OrganisasiSosialSumut

Sikapi Blackout 4 Provinsi, GP Al Washliyah Sumut Desak Warga Lirik Potensi Energi Terbarukan

32
×

Sikapi Blackout 4 Provinsi, GP Al Washliyah Sumut Desak Warga Lirik Potensi Energi Terbarukan

Sebarkan artikel ini
Amaluddin Hasibuan: PLTS Atap Solusi Paling Masuk Akal Atasi Pemadaman Listrik

Medan, formappel.com – Peristiwa pemadaman listrik total (blackout) yang melanda empat provinsi baru-baru ini memicu kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat. Kejadian tersebut dinilai menjadi momentum krusial bagi masyarakat Indonesia untuk mulai beralih ke sumber energi alternatif dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada perusahaan listrik milik negara.

Tanggapan kritis tersebut disampaikan oleh Amaluddin Hasibuan, S.Pd., seorang akademisi sekaligus aktivis pemuda Sumatera Utara. Pria yang akrab disapa Amal, yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Gerakan Pemuda Al Washliyah (GP Al Washliyah) Sumut, menilai ketergantungan tunggal pada PLN di tengah fluktuasi tarif dan pemadaman yang kerap terjadi di daerah—termasuk Kota Medan—bukan lagi pilihan yang bijak pada tahun 2026 ini.

fd9b2591 a4de 4478 a85e 8d627dbe749e

“Indonesia diberkati dengan potensi energi terbarukan yang sangat melimpah, tetapi kita masih terlalu bergantung pada PLN yang mayoritas masih menggunakan batu bara. Beruntung, saat ini banyak sumber energi alternatif yang bisa dibangun dalam skala kecil untuk kebutuhan rumah tangga,” ujar Amaluddin dalam analisisnya, Minggu (24/5/2026).

Berdasarkan fakta terkini, Amaluddin memetakan lima sumber energi alternatif yang layak dipertimbangkan oleh masyarakat beserta analisis kelayakannya:

1. Energi Surya (PLTS Atap) – Solusi Paling Realistis di Perkotaan

Menurut Amal, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap adalah opsi terbaik untuk wilayah perkotaan seperti Medan. Indonesia memiliki radiasi matahari rata-rata 4,8 kWh/m²/hari, salah satu yang tertinggi di dunia, didukung teknologi panel yang semakin matang dan ekonomis.

  • Kelayakan Skala Rumah: Sistem 1–3 kWp (cukup untuk rumah tangga biasa) membutuhkan biaya sekitar Rp15–40 juta. Dapat dipasang dengan sistem on-grid maupun hybrid.

  • Catatan Opini: Skema ini memiliki masa balik modal (payback period) sekitar 5–8 tahun. Penggunaan baterai lithium sangat direkomendasikan agar rumah tangga bisa mandiri total saat terjadi pemadaman di malam hari.

2. Biogas Skala Rumah Tangga – Potensi Daerah Pinggiran

Opsi ini dinilai sangat cocok untuk kawasan pinggiran kota atau pedesaan yang memiliki banyak aktivitas peternakan atau limbah organik.

  • Kelayakan Skala Rumah: Memanfaatkan digester ukuran 4–10 m³ untuk menghasilkan listrik dan gas memasak bagi 1-2 keluarga dengan biaya awal Rp5–15 juta.

  • Catatan Opini: Solusi ekonomi sirkular yang sangat baik karena mampu mengubah limbah menjadi energi sekaligus mengurangi emisi metana.

3. Mikro dan Pico Hydro – Berbasis Aliran Air

Memanfaatkan aliran sungai atau saluran irigasi dengan tinggi jatuh air (head) minimal 2–3 meter.

  • Kelayakan Skala Rumah: Skala Pico Hydro (100–500 Watt) mampu memenuhi kebutuhan penerangan, sedangkan Mikro Hydro (1–100 kW) dapat menyuplai listrik untuk satu kluster perumahan.

  • Catatan Opini: Sangat stabil dan operasionalnya murah, namun bersifat lokasi-spesifik sehingga hanya cocok bagi warga yang tinggal dekat sumber air mengalir, seperti di kawasan pegunungan Sumatera Utara.

4. Energi Angin (Turbin Angin Skala Kecil)

Potensi energi angin dinilai kurang stabil di wilayah Medan dan sekitarnya, berbeda dengan wilayah NTT atau pesisir pantai tertentu.

  • Catatan Opini: Energi angin tidak disarankan menjadi andalan utama, melainkan hanya sebagai pelengkap (hybrid) pendamping panel surya.

5. Geothermal dan Energi Laut (Gelombang/Pasang Surut)

Meskipun potensinya raksasa di Indonesia, Amal menilai teknologi ini berada di luar kapasitas rumah tangga. Pembangkitannya memerlukan modal besar dan lebih cocok dikelola oleh proyek strategis pemerintah atau korporasi skala besar.

Urgensi Mandiri Energi dari Skala Kecil

Di akhir analisisnya, Wakil Sekretaris GP Al Washliyah Sumut ini menekankan tiga alasan utama mengapa setiap kepala keluarga harus mulai membangun ketahanan energinya sendiri:

  1. Ketahanan Energi: Menghindarkan rumah tangga dari dampak pemadaman massal dan kenaikan tarif.

  2. Faktor Ekonomi: Menjadi investasi jangka menengah yang jauh lebih menghemat pengeluaran.

  3. Dampak Lingkungan: Berkontribusi nyata dalam mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.

“Rekomendasi praktis saya, untuk rumah di perkotaan seperti Medan, mulailah dengan PLTS Atap Hybrid 2–5 kWp. Untuk wilayah pinggiran, kombinasikan solar dengan biogas atau mikro hydro. Kita tidak perlu menunggu pemerintah menyelesaikan semuanya, karena teknologinya sudah tersedia dan terjangkau di pasar lokal,” pungkas Amaluddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *