18 April Jadi Penentu: Kapolda Sumut Bertindak atau Akui Hukum Tak Berdaya di Belawan
MEDAN // FORMAPPEL.com –
Arena judi sabung ayam di Gang Bunga, Pasar 4 Marelan, kini bukan sekadar praktik ilegal, ia telah menjelma menjadi simbol terang-terangan runtuhnya wibawa hukum. Di tengah sorotan tajam publik dan derasnya pemberitaan, aktivitas perjudian yang diduga dikendalikan sosok berinisial Wandy justru semakin berani menantang negara, Jum’at 17/4/2026.
Sabtu, 18 April 2026, disebut-sebut sebagai hari “pembuktian kekuatan”. Bukan hanya bagi sindikat judi, tetapi juga bagi aparat penegak hukum. Pertanyaannya sederhana namun menohok: masihkah hukum berdiri tegak, atau sudah bertekuk lutut di hadapan mafia?
Alih-alih meredam, kondisi di lapangan justru menunjukkan eskalasi. Sistem pengamanan internal lokasi judi semakin rapi dan terstruktur, bahkan disebut lebih disiplin dibanding patroli aparat yang tak kunjung terlihat. Prosedur “lakban kamera” untuk membungkam dokumentasi publik tetap diberlakukan ketat, seolah hukum negara tak punya kuasa menembusnya.
Seorang sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kegelisahan warga:
“Persiapan mereka bukan main. Sabtu ini buka besar. Jujur saja, masyarakat di sini merasa aturan negara kalah sama aturan Wandy.”
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan melainkan alarm keras bahwa legitimasi hukum sedang digerus secara nyata di ruang publik.
Di sisi lain, sikap bungkam jajaran pimpinan Polres Pelabuhan Belawan memperparah krisis kepercayaan. Kapolres AKBP Rosef Efendi, Wakapolres Kompol Dedy Dharma, hingga Kasat Reskrim AKP Agus Purnomo tak memberikan satu pun klarifikasi, meski telah berulang kali dikonfirmasi media. Pesan yang hanya “dibaca” tanpa jawaban menjadi simbol dinginnya respons institusi terhadap kegelisahan masyarakat.
Diamnya aparat kini ditafsirkan lebih dari sekadar kelalaian, ia mengarah pada dugaan pembiaran sistematis, bahkan bayang-bayang perlindungan terhadap praktik ilegal.
Kini, semua mata tertuju pada Kapolda Sumatera Utara. Publik mendesak langkah luar biasa, bukan sekadar rutinitas seremonial:
– Turunkan langsung Ditreskrimum Polda Sumut, khususnya tim Jatanras, untuk melakukan penggerebekan tanpa melibatkan unsur lokal yang rawan bocor.
– Perintahkan Propam melakukan audit menyeluruh, menguliti integritas internal Polres Belawan.
– Tangkap aktor utama, bukan hanya pemain kecil karena membiarkan otak intelektual bebas sama saja memelihara kejahatan.
Sabtu, 18 April 2026, kini menjadi garis batas. Bukan sekadar jadwal judi, melainkan momen penentuan: apakah Polri benar-benar hadir sebagai penegak hukum, atau justru kehilangan kendali di wilayahnya sendiri.
Jika arena judi itu kembali beroperasi tanpa gangguan, maka publik tak perlu lagi bertanya, jawabannya sudah jelas terpampang: hukum telah dipermalukan, dan negara kalah di kandangnya sendiri. (WA)






















