Daerah

Blackout Lumpuhkan Sumatera, Formappel’RI Murka: “Dirut PLN Jangan Cuma Minta Maaf, Harus Dicopot dan Audit Total Perusahaan!”

20
×

Blackout Lumpuhkan Sumatera, Formappel’RI Murka: “Dirut PLN Jangan Cuma Minta Maaf, Harus Dicopot dan Audit Total Perusahaan!”

Sebarkan artikel ini

Blackout Lumpuhkan Sumatera, Formappel’RI Murka: “Dirut PLN Jangan Cuma Minta Maaf, Harus Dicopot dan Audit Total Perusahaan!”

SUMUT // FORMAPPEL.com –
Pemadaman listrik massal yang melumpuhkan hampir seluruh wilayah Sumatera memantik gelombang kemarahan publik. Di tengah aktivitas masyarakat yang lumpuh, usaha merugi, hingga pelayanan terganggu, suara desakan agar Direktur Utama Darmawan Prasodjo mundur dari jabatannya kini semakin keras menggema.

fd9b2591 a4de 4478 a85e 8d627dbe749e

Forum Masyarakat Peduli dan Pemerhati Lingkungan Republik Indonesia (Formappel’RI) menjadi salah satu pihak yang paling lantang menyoroti kinerja petinggi PT PLN (Persero) tersebut. Ketua Umum Formappel’RI, R Anggi Syaputra, menilai blackout besar-besaran di Sumatera menjadi bukti kegagalan serius manajemen PLN dalam menjaga stabilitas kelistrikan nasional.

“Ini bukan lagi soal minta maaf. Rakyat rugi miliaran rupiah akibat blackout. Aktivitas lumpuh, pelaku usaha menjerit, masyarakat dirugikan. Kalau rakyat telat bayar listrik langsung diputus, lalu kenapa saat PLN membuat kerugian besar hanya cukup dengan permintaan maaf?” tegas Anggi, Minggu (24/5/2026).

Menurutnya, selama enam tahun memimpin PLN, Darmawan Prasodjo dinilai gagal membangun sistem kelistrikan yang kuat dan siap menghadapi gangguan besar. Ia bahkan meminta pemerintah segera mengevaluasi total posisi orang nomor satu di tubuh PLN tersebut.

“Jaga Harga diri perusahaan negara. Jangan sampai PLN kehilangan kepercayaan publik. Kalau memang tidak mampu, lebih baik mundur atau dicopot,” ujarnya dengan nada keras.

Tak hanya soal blackout, Anggi juga menyinggung kabar yang beredar di internal PLN terkait dugaan kerugian perusahaan mencapai Rp4,3 triliun pada tahun 2025. Narasi itu disebut berbanding terbalik dengan klaim laba perusahaan yang sebelumnya diumumkan ke publik.

“Kondisi ini membuat publik bingung. Di luar bicara untung triliunan, tapi di internal justru muncul keresahan pegawai soal kondisi keuangan perusahaan. Ada apa sebenarnya di tubuh PLN?” kata Anggi.

Ia menduga situasi internal perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Bahkan disebut-sebut ada pesan berantai dari jajaran elit PLN yang meminta penghematan dan pengendalian anggaran ketat di tengah kondisi perusahaan yang menjadi sorotan tajam masyarakat.

Blackout Sumatera sendiri menjadi salah satu insiden kelistrikan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Pemadaman massal yang terjadi serentak di berbagai provinsi membuat kemarahan publik meluas di media sosial. Banyak masyarakat mempertanyakan profesionalisme PLN dalam menjaga pasokan listrik di tengah tingginya tarif dan tuntutan pembayaran tepat waktu kepada pelanggan.

Kini, publik menunggu langkah nyata, bukan sekadar permintaan maaf. Sebab bagi masyarakat, blackout bukan hanya persoalan listrik padam, tetapi juga tentang kerugian ekonomi, lumpuhnya aktivitas, dan hilangnya rasa percaya terhadap pelayanan perusahaan negara. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *