13 Tahun Memendam Rindu ke Baitullah, Ketua PW IWO Sumut Akhirnya Menangis Haru Saat Panggilan Allah Tiba
MEDAN // FORMAPPEL.com –
Langkah kaki Amri Abdi pagi itu tampak berbeda. Tidak lagi tergesa seperti saat mengejar narasumber atau memburu berita di tengah hiruk-pikuk kota. Minggu pagi (10/5/2026), sekitar pukul 06.15 WIB, ia melangkah perlahan memasuki Asrama Haji Medan dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang dipenuhi rasa syukur tak terhingga.
Di balik balutan batik biru hitam yang dikenakannya, tersimpan perjalanan panjang penuh doa, kesabaran, dan harapan yang dipendam selama 13 tahun.
Hari itu, penantian panjang seorang wartawan senior yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Wartawan Online Sumatera Utara (PW IWO Sumut) akhirnya menemukan jawabannya.
Mimpi yang sejak 2013 hanya mampu ia bisikkan dalam doa-doa malam, kini benar-benar berada di depan mata. Ia akan segera menapakkan kaki di Tanah Suci, memenuhi panggilan Allah SWT sebagai tamu-Nya.
Bersama sang istri tercinta, Amri bersiap meninggalkan sejenak dunia yang selama ini membesarkan namanya. Jika selama bertahun-tahun ia terbiasa mengejar berita dan menyuarakan kisah orang lain, kali ini ia tengah menulis kisah spiritualnya sendiri, kisah tentang kerinduan seorang hamba kepada Baitullah.
“Keinginan ini sudah ada sejak 2013 lalu. Sejak saat itu, tekad saya sudah bulat. Saya ingin sekali menjadi tamu Allah,” ucap Amri dengan suara lirih yang nyaris patah saat ditemui di sela prosesi keberangkatan.
Bagi Amri, perjalanan menuju Makkah bukan sekadar perjalanan ribuan kilometer melintasi negara. Ini adalah perjalanan hati, perjalanan air mata, dan perjalanan panjang yang ditempa oleh kesabaran selama lebih dari satu dekade.
Sebagai bagian dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Pemko Medan, Amri dan istrinya tergabung dalam Kloter 17. Namun di balik status dan jabatan yang melekat padanya, Amri hanyalah seorang manusia biasa yang terus mengetuk langit lewat doa-doanya.
Di tengah kesibukannya memimpin organisasi wartawan dan menjalani profesi jurnalis, ia tak pernah berhenti berharap agar Allah membuka jalan menuju Baitullah. Dan kini, ketika kesempatan itu benar-benar datang, rasa haru tak mampu lagi disembunyikan.
Baginya, berangkat bersama sang istri adalah nikmat yang tak bisa diukur dengan apa pun. Sebab di perjalanan suci itu, ia tidak hanya membawa koper dan pakaian ihram, tetapi juga membawa harapan, doa, dan cinta yang selama ini tumbuh dalam perjuangan hidup mereka berdua.
Sambil menunggu panggilan menuju bandara, bibir Amri terus bergerak memanjatkan doa. Sesekali ia menunduk, mencoba menyembunyikan mata yang mulai basah.
“Harapan saya hanya satu, semoga ibadah kami di Tanah Suci nanti diterima, segala doa dimakbulkan, dan kami bisa kembali ke tanah air menjadi haji yang mabrur,” tuturnya dengan suara bergetar penuh harap.
Di tengah lautan manusia yang bersiap berangkat ke Tanah Suci, Amri Abdi pagi itu bukan lagi sekadar wartawan senior atau Ketua PW IWO Sumut.
Ia adalah seorang hamba yang sedang memenuhi panggilan Rabb-nya.
Seorang manusia yang telah menunggu 13 tahun demi satu momen sakral: bersujud di depan Ka’bah dan menjemput janji suci di Tanah Haram. (Hendra Gunawan)





















