Deli Serdang

Pemuda Wasathiyah Desak APH Tegas: “Pemberantasan Narkoba Jangan Tebang Pilih

129
×

Pemuda Wasathiyah Desak APH Tegas: “Pemberantasan Narkoba Jangan Tebang Pilih

Sebarkan artikel ini

DELI SERDANG – Kabupaten Deli Serdang kian mempertegas posisinya sebagai salah satu benteng krusial dalam perang melawan peredaran gelap narkotika di Provinsi Sumatera Utara. Letak geografisnya yang strategis—sebagai wilayah penyangga Kota Medan sekaligus pintu masuk jalur udara dan pesisir pantai—membuat urgensi penanganan barang haram ini berada di titik tertinggi.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Wilayah Pemuda Wasathiyah Kabupaten Deli Serdang, Jaya Suprada, S.Pd. Menurutnya, tantangan yang dihadapi Deli Serdang bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan ancaman sistemik yang memerlukan penanganan luar biasa.

fd9b2591 a4de 4478 a85e 8d627dbe749e

Berdasarkan data yang dihimpun dari otoritas kepolisian setempat, berikut laporan mendalam mengenai peta kerawanan, statistik pengungkapan terbaru, hingga pergeseran demografis pengguna narkoba di Deli Serdang sepanjang paruh pertama tahun 2026.

Rapor Merah Empat Bulan: 150 Kasus Digulung, 187 Tersangka Diringkus

Komitmen Kepolisian Resor Kota (Polresta) Deli Serdang dalam memberantas peredaran gelap narkotika tergambar jelas melalui tren penindakan yang agresif. Sepanjang periode Januari hingga April 2026, Korps Bhayangkara berhasil mengungkap sedikitnya 150 kasus peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Dari ratusan kasus tersebut, polisi mengamankan 187 tersangka yang terdiri dari jaringan pengedar, kurir, hingga bandar kelas kakap. Selain kuantitas kasus yang masif, dinamika pengungkapan tahun ini diwarnai oleh keberhasilan Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) menggagalkan penyelundupan puluhan kilogram sabu yang diindikasikan kuat berasal dari jaringan internasional melalui jalur Malaysia-Sumatera.

Jaya Suprada menilai, selain langkah represif, tindakan preventif juga harus diintensifkan melalui program Gerebek Sarang Narkoba (GSN).

“Upaya ini menjadi sangat krusial mengingat Provinsi Sumatera Utara secara konsisten masih menempati peringkat atas dalam daftar provinsi dengan prevalensi pengguna narkoba tertinggi di Indonesia menurut Badan Narkotika Nasional (BNN),” ungkap Jaya.

Peta Jalur Hitam: Kecamatan Pinggiran dan Perbatasan Jadi Titik Terpanas

Deli Serdang memiliki karakteristik geografis yang unik—perpaduan antara pusat urban yang padat, kawasan perkebunan yang luas, dan garis pantai yang panjang. Kondisi ruang yang terbuka ini kerap dimanfaatkan oleh sindikat narkoba untuk menyusupkan barang terlarang.

Berdasarkan klasterisasi kasus terbaru, terdapat empat kecamatan yang mencatatkan intensitas penggerebekan tertinggi:

  • Kecamatan Percut Sei Tuan: Wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Medan ini menjadi titik paling rawan. Desa Tembung, Desa Hutan, dan Desa Bandar Khalipah secara berkala masuk ke dalam radar pengawasan ketat BNN dan kepolisian.

  • Kecamatan Tanjung Morawa: Sebagai pusat industri dan perlintasan utama Lintas Sumatera, kawasan Desa Bandar Labuhan di kecamatan ini kerap menjadi lokasi penangkapan strategis.

  • Kecamatan Lubuk Pakam: Ibu kota kabupaten ini tidak luput dari cengkeraman narkoba. Kawasan seperti Dusun Ampera Utara di Desa Sekip berulang kali digerebek setelah teridentifikasi bertransformasi menjadi “kampung narkoba” terselubung.

  • Kecamatan Batang Kuis: Desa Baru menjadi salah satu titik yang diwaspadai akibat tingginya laporan aktivitas transaksi ilegal.

Selain empat wilayah utama tersebut, aparat kepolisian juga menggelar operasi simultan di 11 kecamatan lainnya secara acak. Operasi menyasar kawasan pesisir seperti Pantai Labu, area perimeter bandara di Beringin, hingga wilayah dataran tinggi seperti Namo Rambe, Pancur Batu, dan Sibiru-biru.

Fakta di lapangan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: peredaran narkoba tidak lagi memusat di area perkotaan, melainkan sudah menyebar merata ke wilayah perkebunan dan pedesaan terpencil.

Krisis Generasi Z: Usia Produktif dan Pelajar Terjebak Candu Sabu

Satu hal yang paling mengkhawatirkan dari evaluasi jurnalisme data kali ini adalah pergeseran usia para pelaku dan pengguna. Berdasarkan profil tersangka yang diamankan, mayoritas berada di usia produktif antara 15 hingga 45 tahun, dengan akumulasi terbesar pada rentang 20 hingga 35 tahun.

Namun, tren yang mengalami lonjakan signifikan justru datang dari kalangan remaja dan Generasi Z (pelajar/mahasiswa). Data BNN tingkat provinsi mengindikasikan bahwa sekitar 27% pengguna narkoba di Sumatera Utara kini berasal dari kalangan anak muda.

Lebih miris lagi, kasus penyalahgunaan di bawah usia sekolah (di bawah 20 tahun) menunjukkan grafik yang merangkak naik dalam dua tahun terakhir. Zat kimia jenis methamphetamine atau sabu tetap menjadi komoditas utama yang paling diburu, dengan estimasi kenaikan konsumsi mencapai sekitar 35% di Deli Serdang.

Kemudahan akses, tersedianya harga “paket hemat” (pahe), serta minimnya edukasi mengenai dampak destruktif zat adiktif ditengarai menjadi pemicu utama para remaja ini terjebak dalam lingkaran setan narkotika.

Melihat kondisi yang kian mengancam ini, Pemuda Wasathiyah menyatakan sikap akan terus mengawal kinerja penegak hukum.

“Kami dari Pemuda Wasathiyah Kabupaten Deli Serdang terus memantau kinerja Polresta Deli Serdang dan BNNK Deli Serdang dalam memburu titik-titik peredaran narkoba ini. Kami berharap pihak Aparat Penegak Hukum (APH) tidak hanya puas dengan apresiasi semata, dan yang terpenting, tidak boleh tebang pilih dalam pemberantasan narkoba,” tegas Jaya menutup pernyataannya dengan menggaungkan Salam Wasathiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *