BATU BARA, formappel.com – Gelombang perlawanan terhadap dugaan penimbunan Sungai Badak Mati oleh PT Multimas Nabati Asahan (MNA) kini merambah ke kalangan pelajar. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Al Washliyah (PC IPA) ketua Rayon IPA tanjung tiram secara terang-terangan menyatakan dukungan penuh atas seruan “jihad lingkungan” yang digelorakan oleh Ketua PW IPA Sumut, Ahmad Irham Tajhi.
Ahmad bedawi, Ketua Rayon IPA Tanjung Tiram, tampak tidak bisa lagi membendung kekesalannya melihat sungai yang merupakan warisan alam justru dijadikan “proyek timbunan” oleh raksasa industri. Dengan nada sarkas, ia menyebut bahwa pembiaran terhadap penutupan sungai ini adalah bukti nyata hilangnya akal sehat para pemangku kebijakan.
“Sungai Badak Mati itu sumber kehidupan, tempat rekreasi, dan harapan bagi pelajar seperti kami. Sungguh kejam, tidak berperikemanusiaan, dan seolah ‘hilang akal’ jika ada oknum yang membiarkan PT MNA menimbun sungai seenak jidatnya sendiri!” tegas Wahyuda.
Kado Pahit untuk Bupati Batu Bara
Tak hanya menyasar perusahaan, sorotan tajam juga diarahkan kepada Bupati Batu Bara. Ahmad bedawi, Ketua PC IPA Tanjung Tiram, menegaskan bahwa Bupati jangan hanya menjadi penonton dalam drama “pembunuhan” ekosistem ini.
Menurut Ahmad, alih fungsi sungai demi kepentingan perut perusahaan telah berlangsung bertahun-tahun tanpa tindakan konkret. Dampaknya? Warga hanya kebagian banjir, polusi, dan kemiskinan karena nelayan kehilangan mata pencaharian, sementara perusahaan asyik menikmati hasil dari “brutalitas” lingkungan tersebut.
Jumat Keramat di Mapolda Sumut
Sebagai bentuk nyata dari kemarahan yang terukur, PW IPA Sumut mengundang seluruh masyarakat Batu Bara untuk melakukan “wisata aspirasi” dalam aksi unjuk rasa besar-besaran yang akan digelar pada:
-
Hari/Tanggal: Jumat, 24 April 2026
-
Lokasi: Depan Mapolda Sumatera Utara
Aksi ini bertujuan untuk mengetuk pintu hati aparat penegak hukum agar segera memeriksa dugaan “brutalitas” lingkungan oleh PT MNA. Hingga saat ini, pihak PT MNA dan Pemerintah Kabupaten Batu Bara masih memilih jurus “seribu bahasa” alias bungkam, menambah kecurigaan bahwa ada sesuatu yang memang sengaja disembunyikan di bawah tumpukan tanah timbunan tersebut.






















